Loading
X
Selamat Datang di Portal Resmi Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Bojonegoro © 2014
Obyek Wisata di Kabupaten Bojonegoro

WISATA ALAM

 

KAYANGAN API

Kayangan Api merupakan sumber api yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem, sebuah desa yang memiliki kawasan hutan sekitar 42,29% dari luas desa. Menurut cerita, Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari kerajaan Majapahit. Di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur yang berbau belerang dan menurut kepercayaan saat itu Mbah Kriyo Kusumo masih beraktivitas sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain.

Sumber Api, oleh masyarakat sekitarnya masih ada yang menganggap keramat dan menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan/wilujengan dan tayuban dengan menggunakan gending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono tidak boleh ditemani oleh siapapun.

Dari berbagai sumber cerita, maka Kayangan Api yang letakya sekitar 25 km dari ibukota Bojonegoro dijadikan sebagai obyek wisata alam dan dijadikan tempat untuk upacara penting yakni Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro, ruwatan masal. Tempat wisata ini telah dibenahi dengan berbagai fasilitas seperti pendopo, tempat jajanan, jalan penghubung ke lokasi dan fasilitas lainnya. Lokasi kayangan api sangat baik untuk kegiatan sebagai lokasi wisata alam. Dan pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jum'at Pahing banyak orang berdatangan di lokasi tersebut untuk maksud tertentu seperti agar usahanya lancar, dapat jodoh, mendapat kedudukan dan bahkan ada yang ingin mendapat pusaka.

Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan adalah Nyadranan (bersih desa) sebagai perwujudan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Pengembangan wisata alam Kayangan Api diarahkan pada peningkatan prasarana dan sarana transportasi, telekomunikasi dan akomodasi yang memadai. Pada tahun 2000 lalu digunakan sebagai tempat pengambilan Api PON XV.Kayangan Api merupakan wisata alam yang sangat strategis karena berada ditengah-tengah hutan yang rimbun.
 

WADUK PACAL

Waduk Pacal yang terletak kurang lebih 35 Km dari arah selatan ibukota Kabupaten Bojonegoro adalah merupakan obyek wisata alam dan untuk menuju ke obyek wisata tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi (mobil / sepeda motor) atau dengan angkutan umum (colt atau bus) jurusan Bojonegoro-nganjuk kemudian turun di pertigaan waduk pascal dan menuju lokasi waduk dengan jalan kaki sejauh 2 Km.

Waduk Pacal yang memiliki luas sekitar 3,878 kilometer persegi dengan kedalaman 25 meter, merupakan bangunan sarana pengairan peninggalan zaman belanda, yang dibangun pada tahun 1933 dengan manfaat multifungsi. Daya tarik wisata adalah kemegahan dan kekokohan bangunan peninggalan zaman belanda tahun 1933 dan hamparan air yang melimpah dengan panorama alam dan hutan jati yang mempesona.

Fasilitas yang tersedia di lokasi wisata adalah pesanggrahan (tempat menginap), arena memancing, perahu dayung, tempat jajanan dan kenyamanan. Pengembangan wisata waduk pascal diarahkan pada pengembangan fasilitas tranportasi, akomodasi, telekomunikasi yang memadai serta peningkatan fasilitas obyek wisata disamping berfungsi sebagai pengairan pertanian di Kabupaten Bojonegoro.

 

WISATA BUDAYA

 

BUDAYA MASYARAKAT SAMIN

Masyarakat Samin adalah suatu komunitas masyarakat yang masih teguh menjunjung tinggi ajaran Samin Surosentiko, yaitu kesederhanaan, keterbukaan, keikhlasan dan selalu menjaga keseimbangan alam.

Komunitas masyarakat ini sering menjadi obyek penilitian. Tinggal berkelompok di Dukuh Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, ± 60 km arah barat daya Kota Bojonegoro.

 

WISATA MINAT KHUSUS

 

TAMBANG MINYAK TRADISIONAL

Tambang minyak ini sangat unik. Dilakukan secara tradisional dengan cara menimba. Meski demikian, cara ini dapat menggali sumber minyak hingga kedalaman 800 meter ke dalam perut bumi.

Tambang minyak tradisional ini terdapat di Desa Hargomulyo dan Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, ± 50 km barat laut kota Bojonegoro. Aktivitas penambangan dilakukan antara pukul 07.00 – 11.00 WIB.

 

WISATA RELIGI

 

 KUBUR KALANG

Peti kubur batu Kalang di Desa Kawengan, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro,, saat ini masih bisa ditemui setidaknya di sembilan titik. Jumlahnya 100 lebih, dengan jarak antartitik kelompok peti kubur batu bervariasi antara 150 meter dan 1 kilometer.

Lokasi peti kubur batu itu sekitar 10 km dari Bengawan Solo. Kubur batu terletak di lereng-lereng perbukitan, tepatnya di bukit Sumur 70 Kedewan di lahan hutan seluas sekitar 15 hektar. Selain itu, peti kubur batu juga didapati di Bukit Gunung Mas  yang merupakan areal tandus. "Untuk bisa melihat semua titik butuh waktu setengah hari, kuburan batu itu rata-rata berukuran 1 meter x 2 meter. Juga ada lima kubur batu berukuran 3 meter x 1,5 meter.

Kedalaman lubang kubur sekitar 60 sentimeter. "Di lokasi kubur Kalang itu pernah ditemukan beberapa peninggalan masa lampau berupa manik-manik, gelang perak untuk tangan dan kaki, senjata semacam golok, dan gerabah halus. Selain itu juga ditemukan tengkorak yang bagian kepalanya berada di timur. Selain di Kawengan, kubur batu ini juga ditemukan di areal perbukitan Desa Dungur di Kecamatan Senori, Desa Soko di Kecamatan Bangilan, Desa Nglateng di Kecamatan Kalirejo, Desa Prambon di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban.

Tahun 1997 pernah diadakan penggalian oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Tiga puluh tahun lalu pernah batu-batu yang merupakan peti kubur batu itu diambili untuk proyek bangunan karena ketidaktahuan masyarakat. Saat ini sebagian peti kubur batu itu kondisinya sudah terkikis dan berada di antara semak belukar. Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, menjelaskan, peti kubur batu merupakan tradisi megalitik tua yang sudah ada sejak masa bercocok tanam zaman prasejarah.

Khusus peti kubur batu di Kawengan, tidak harus berasal dari masa bercocok tanam karena temuan hasil ekskavasi 1997 menunjukkan data adanya artefak berupa golok, gelang tangan, gelang kaki, manik-manik, dan fragmen gerabah yang berasal dari pasca prasejarah.

Dengan demikian, diperkirakan situs ini paling tua berasal dari masa perundagian pada zaman prasejarah, atau bahkan berasal dari masa Hindu Buddha yang masih melanjutkan tradisi prasejarah. Indikasi itu terlihat dari temuan penyerta yang bisa jadi merupakan bekal kubur.

Lokasi temuan memang berada pada jarak sekitar 10 km dari Bengawan Solo, tetapi masih berada di wilayah Desa Kawengan. Yang perlu dicermati nama Kawengan dekat dengan nama desa lama Kawangen, yaitu salah satu desa perdikan (sima) yang disebut dalam Prasasti Canggu bertarikh 1358 Masehi sebagai desa penyeberangan (panambangan) di Bengawan Solo wilayah Bojonegoro sekarang.

Tidak tertutup kemungkinan masyarakat Kalang yang tinggal di Kawengan pada masa lalu juga menggunakan Bengawan Solo untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup mereka, baik untuk transportasi air maupun pembudidayaan tanaman. Jika benar demikian, berarti status perdikan Kawangen diberikan kepada komunitas Kalang yang sudah ada di lokasi ini sejak masa Majapahit.

Keseluruhan makam mengarah timur-barat. Dalam tradisi megalitik, arah itu menjadi orientasi dalam penguburan. Timur menunjukkan kelahiran dan barat menunjukkan kematian. Secara simbolik, orientasi ini menggambarkan kelahiran kembali setelah kematian.

 

WALI KIDANGAN

Makam ini dipercaya sebagai makam seorang ulama besar dari Kesultanan Pajang bernama Syeh Mukodar, tapi ada pula yang menyebut Pangeran Kumbang Ali-ali. Sebagian masyarakat lain menyebutnya Narasoma.

Setiap hari makam ini tidak pernah sepi oleh peziarah dari berbagai daerah. Makam ini berada di puncak bukit di Desa Sukorejo Kecamatan Malo ± 25 km utara kota Bojonegoro.

 

PETILASAN ANGLING DHARMA

Petilasan ini berupa tumpukan batu bata dibawah Pakon Watu. Jenis tanahnya seperti bekas pemukiman. Menurut masyarakat sekitar, tempat ini merupakan gapura. Di lokasi tersebut terdapat tanah embat yang selalu basah. Konon, tempat tersebut adalah tempat pemandian, tempat Dewi Setyowati bertemu Prabu Angling Dharma yang menjelma menjadi burung Mliwis Putih. Ke arah timur dari Pakon Watu terdapat dataran yang agak tinggi. Konon merupakan pendapa perumahan menghadap ke utara. Petilasan ini terletak di Desa Wotan Ngare Kecamatan Kalitidu 21 km arah barat Kota Bojonegoro.

 

WISATA BELANJA

 

MEUBEL SUKOREJO

Produk meubelair ini hanyalah satu di antara sekian banyak hasil olahan kayu jati di Kabupaten Bojonegoro yang terkenal sebagai penghasil kayu jati berkualitas tinggi. Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro merupakan salah satu sentra perajin meubelair tersebut.

Ragam produknya tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar regional namun sudah mampu menembus pasar mancanegara. Setiap tahun digelar “Bojonegoro Wood Fair”. Diskon khusus diberikan selama masa promosi ini. Tahun 2010 Desa Sukorejo dicanangkan sebagai Desa Wisata Kerajinan Kayu dan Meubel oleh Bupati Bojonegoro.

 

KERAJINAN BUBUT KAYU

Produk yang memanfaatkan limbah industri meubelair ini bisa menghasilkan cinderamata yang artistik dan bernilai jual tinggi. Produk yang dihasilkan anatara lain jam dinding, miniatur mobil, sepeda motor, delman, becak, guci, tempat payung, kap lampu, petromak dan lain-lain. Pusat kerajinan ini terdapat di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, ± 45 km arah barat kota Bojonegoro.

 

KERAJINAN PATUNG HEWAN

Kecamatan Malo tidak hanya terkenal dengan celengan hewannya. Tetapi juga perajin patung hewan berbahan baku kayu seperti di Desa Banaran. Sapi, kuda, menjangan dalam berbagai ukuran hingga seukuran hewan aslinya diproduksi di Desa yang berjarak 25 km arah utara kota Bojonegoro.

 

BATIK JONEGOROAN

Batik khas Bojonegoro ini memiliki 14 motif yaitu Sekar Jati, Jagung Miji Emas, Parang Dahana Munggal, Mliwis Mukti, Gastra Rinonce, Pari Sumilak, Sata Ganda Wangi, Parang Lembu Sekar Rinambat, Rancak Thengul, Woh Roning Pisang, Surya Salak Kartika, Pelem-pelem Suminar, Sekar Rosella Jonegoroan dan Belimbing Lining Lima. Ke 14 motif tersebut merupakan visulalisasi potensi Kabupaten Bojonegoro. Sentra perajin batik terdapat di Desa Jono Kecamatan Temayang 25 km arah selatan Kota Bojonegoro, Desa Purwosari 27 km arah barat Kota Bojonegoro dan Desa Prayungan Kecamatan Sumberejo 17 km arah timur Kota Bojonegoro.

 

WISATA AGRO

 

WISATA AGRO BELIMBING

Wisata agro andalan Kabupaten Bojonegoro adalah Buah Belimbing di Desa Ngringin Rejo dan Desa Mojo Kecamatan Kalitidu. Belimbing ini buahnya besar dan sangat manis. Pengunjung bisa memetik sendiri dari pohon. Luas areal sekitar 21 hektar. Lokasinya sekitar 15 km arah barat Kota Bojonegoro. Dan pada tahun 2014, Wisata Agro Belimbing mendapat juara pertama dalam Anugerah Wisata Jawa Timur untuk kategori Wisata Buatan.

 

WISATA AGRO SALAK

Kabupaten Bojonegoro juga memiliki produk wisata agro andalan yaitu Salak Wedi di Desa Wedi dan Desa Tanjung Harjo Kecamatan Kapas. Luas areal perkebunan sekitar 23 hektar. Lokasinya sekitar 5 km arah timur Kota Bojonegoro. Rasa buah Salaknya sangat berbeda dengan buah Salak yang ada di Indonesia yaitu manis, asam dan segar.